Coba Cek Toko Sebelah

Waktu saya SMA, terjadilah ledakan di dunia fashion yang mengakibatkan timbulnya keseragaman dalam menggunakan alas kaki. Ya, sepatu canvas dari Converse. Pada saat itu, saya dan teman lainnya seakan tersihir oleh sepatu berdesain sederhana tersebut. Satu persatu dari kami mulai membeli dan menggunakan sepatu converse. Sampai suatu saat, salah satu teman, Sandy, biasa dipanggil Iis, ingin membeli sepatu yang sama.

"Ren, lo beli converse itu dimana?" tanya Sandy kepada Rendra teman kami yang memiliki kemiripan wajah yang mendekati absolut dengan John Lennon.

"Di Jambu 2 Is", jawab Rendra.

"Oh, di jembatan merah ada gak yah kira-kira?", kembali Sandy bertanya.

"Gak tau deh, tapi kalau mau beli disitu, gue anter deh", sambut Rendra antusias.

Singkat cerita mereka berdua kemudian melangkahkan kakinya ke arah jembatan merah dan memasuki satu toko sepatu. Dan kemudian terjadilah percakapan sebagai berikut. (PT=Penjaga Toko; S=Sandy; R=Rendra)

S: "Mba, ada sepatu converse yang canvas?"

PT: "Ada Mas. Mau yang warna apa?"

S: "Yang item aja yang biasa Mba. Berapa harganya?"

PT: "115 ribu Mas".

S: "Kurangin dong Mba", ujar Sandy

PT: "Wah udah murah banget itu Mas. Sok aja cek toko sebelah"

S: "Harga pasnya berapa? Kurangin dong, kan pelanggan nih"

PT: "Beneran Mas, itu harga udah murah banget!"

S: "Ih si Mba mah, ini temen saya beli sepatu yang sama lebih murah harganya", ujar Sandy sambil menunjuk Rendra yang berdiri di sampingnya.

PT: "Berapa duit emang?"

S: "Berapa Ren? Lebih murah kan ya?"

R: "150 ribu!", jawab Rendra dengan raut muka polosnya.

Tanpa pikir panjang Sandy langsung menyambar, "Yaudah mba, 115 ribu saya ambil nomor 42 ya!"

Durian Gak Kepake!

Saya, Dika, Tari, Mada dan Ardi menghabiskan malam di Bandung. Dengan menggunakan mobil Tari, kami menyusuri jalanan di Bandung demi mencari buah durian. Sosok buah bak bidadari dari surga yang belum ada tandingannya di dunia, entah di luar angkasa.

Akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Satu persatu tukang durian kami hampiri, lalu pilihan jatuh ke sebuah tenda sederhana yang dijaga oleh sepasang suami istri, yakni si bapak dan si ibu. (Saya gak nanya namanya, da ini mah bukan wawancara, saya kesitu mau makan duren, yey)

Lalu muncullah Dika dari balik tumpukan durian yang sebenarnya ada di sebuah truk di seberang jalan sana. Oh salah ketang, itu tukang parkir, ternyata Dika ada di sebelah saya daritadi.

Dengan penampilan meyakinkan sebagai ahlinya durian, dengan pesan utama yang selalu diulangnya, "Jangan pernah lo makan duren dari ujung piso si penjual!", Dika mencoba meyakinkan kami supaya dia saja yang memilih dan bertransaksi dengan penjual durian tersebut. Kami menyaksikan sepak terjang Dika dari kejauhan.

"Ayo dek, durennya. Manis ini mah, ibu gak bohong," ujar si ibu penjual durian.

Tanpa banyak kata-kata dan berlagak ala durian expert lulusan Oxpord, Dika mengambil buah durian dari tumpukan, lalu menciuminya dan menaruhnya kembali ke tempat semula. Begitu seterusnya. Sampai kemudian, datanglah si bapak penjual durian.

"Mau yang mana dek?" tanya si bapak penjual durian.

"Coba yang ini Pak" jawab Dika dengan mantap. Kemudian si bapak penjual durian pun membuka ujung kulit durian dengan sebilah pisau tajam, dan memberikan ujung pisaunya kepada Dika.

Karena pakem yang selalu diteriakkan, Dika lalu menolak untuk mencoba durian dari ujung pisau si penjual dengan berkata, "Pak, saya coba colek dari duriannya aja"

Dengan slogan umum 'Pembeli adalah Raja', maka si bapak penjual durian pun melemparkan senyum dan berujar layaknya tukang dagang obat terlarang, "Oh mangga sok silahkan. Ini dijamin barangnya bagus!".

"Ah, gak enak nih Pak. Dingin! Coba yang ini", ujar Dika sambil menyodorkan durian yang diambilnya dari tumpukan.

Masih dengan pakem yang sama, ketika si bapak penjual durian menawarkan duriannya melalui ujung pisau, Dika menolak dan langsung mencelupkan jarinya ke buah durian yang hanya dibuka ujungnya saja oleh si bapak penjual durian.

"Gimana dek, yang ini enak kan? Barangnya bagus kok", lagi si bapak penjual durian mencoba meyakinkan.

"Ah gak kepake Pak. Coba yang ini!", jawab Dika sambil menyodorkan durian lainnya. Dan perbincangan ini terjadi sampai buah durian yang selanjutnya dan selanjutnya. (jumlah durian yang dicoba dan dibilang gak kepake itu kemungkinan mencapai 20 buah menurut Armada dalam komentar foto di Facebook)

Screen_shot_2011-10-08_at_3

Mungkin kekesalan si bapak penjual durian sudah sampai puncaknya, terjadilah perbincangan sebagai berikut.

"Sok yang ini mah gak bakalan gagal dek, barang bagus ini!" ujar si bapak penjual durian.

Dengan sangat mantap, Dika pun menjawab, "Ah, dingin gini, gak kepake Pak!"

Lalu sambil menggenggam sebilah pisau di tangan kanan dan sebuah durian di tangan kiri, si bapak pun berujar dengan nada emosi, "Kalau gini caranya mah saya rugi atuh! Udah berapa biji duren dibuka, kamu bilang gak kepake. Gak bener ini kalau gini caranya!"

Karena merasa terdesak dan terindimidasi oleh sebilah pisau di tangan kanan dan sebuah durian di tangan kiri, Dika pun melalalikan tugasnya sebagai durian expert dan memanggil bala bantuan.

"Boi, sini deh, lo cobain gimana rasanya ni duren", teriak Dika memanggil saya. "Bentar ya Pak, bentar. Lidah orang kan beda-beda, barangkali menurut temen saya ini emang barang bagus", ujar Dika seraya mencoba menenangkan si bapak penjual durian yang sudah emosi bukan kepalang.

Dengan langkah tegap maju jalan, saya menghampiri dan mencoba durian tersebut dari ujung pisau si bapak penjual durian. (Ini keadaan udah genting, kalau masih minta nyolek duriannya langsung, yang ada bukan duren yang dibelah)

"Hmm..enak kok, manis!", ujar saya sembari tersenyum ketakutan.

"Tuh, kata saya juga apa kan Pak. Lidah orang mah beda-beda. Sok ini berapaan harganya?", sambung Dika berupaya menghindari konflik berkepanjangan.

"35 ribuan aja dek", jawab si bapak.

"Kurangin atuh Pak?", saya mencoba menawar.

"Emang mau ambil berapa?", tanya si bapak.

"2 biji aja, yah kurangin ya Pak? Kalau gak saya ambil 3 deh!", saya mengajukan tawaran.

Belum dijawab pertanyaan saya oleh si bapak penjual durian, Dika pun ikut berujar, "Iya pak, masa sesama warga sini gak kasih murah"

Dengan aura persahabatan yang kental, si bapak pun balik bertanya ke Dika, "Emang kamu tinggal dimana dek?"

"Itu di depan", Dika asal menunjuk ke sebuah jalan di seberang tenda tempat di mana kami sedang melakukan negosiasi perdamaian ala PBB.

Tanpa diduga, si bapak penjual durian pun menjawab, "Rumah saya di situ. Kamu tinggal dimananya?"

Sadar akan blunder yang dilakukannya. Dika langsung berkata, "Yaudah Pak. Sok buka aja durennya. Sok berapa aja harganyalah dibayar"

Dan akhirnya perdamaian pun terjadi. Dika dan saya memanggil Tari, Mada dan Ardi untuk segera bergabung melahap durian hasil perdamaian dengan si bapak penjual durian. Perdamaian ini semakin lengkap karena untuk pertama kali dalam hidupnya, Ardi makan buah durian.

Durian2

Resolusi? Gak Harus Tahun Baru

Media_httpnaturesgraf_iifej
Menyambut Tahun Baru 2011 ini, gue banyak liat orang "menyesali" kegagalan mereka dalam pencapaian mereka di resolusi 2010. Dari mulai yang sepanjang hari mengeluh tentang semua kegagalan resolusi 2010-nya, sampai orang yang terus "pamer" tentang kejayaan dan keberhasilan pencapaian resolusi 2010 dan menutup tahun ini dengan indahnya. Tapi di balik semua itu gue liat ada juga orang yang bilang, "Gue gak pernah bikin resolusi. Cukup hidup teratur dan bikin rencana matang, hidup akan terasa lebih baik." Terus ada juga yang bilang, "Ngapain segala pake resolusi? Kalau gagal, mewek aje lo!". Gak bisa disalahin juga sih orang yang berpandangan begini, itu hak dia untuk bilang begitu. Menurut gue, simple aja kok. Gue gak pernah mau anggap ribet apapun itu yang namanya resolusi kek, atau revolusi kek, intinya adalah kembali ke kitanya sendiri, bisa jaga komitmen gak sama resolusi yang udah kita buat? Kalau emang bisa, gak usah nunggu momentum Tahun Baruan juga bisa kan? :) Pekerjaan paling percuma di dunia ini adalah "menyesali" diri sendiri. Apapun yang sudah kita kerjakan, kita lakukan dengan sebaik-baiknya, kita harus hargai prosesnya, hasil akhir itu anggaplah sebagai bonus tambahan. Berhasil? Bersyukur. Gagal? Ya belajar dari kegagalan dan kembali dengan "amunisi penuh". Kalau untuk gue, jangan pernah menyesali apa yang udah terjadi di belakang. Bangun dan buat kembali perencanaan yang lebih matang lagi dengan catatan kegagalan di belakang sebagai antisipasi untuk perencanaan selanjutnya. Ingat! Yang penting itu proses-nya, bukan hasil akhir-nya. Nikmatin hidup lo dengan berbagi, minimal berbagi kebahagiaan dengan tersenyum. :) Happy New Year 2011 Everyone! Cheers :)

Arti Sahabat dari Dokumenter "No Distance Left To Run"

Gue baru selesai nonton dokumenter-nya BLUR, judulnya “No Distance Left To Run”. Ekspektasi pertama gue sama dokumenter ini pertama kali yaitu sejenis dokumenter band pada umumnya. Tapi, gue salah, ternyata dokumenter ini punya kekuatan tersendiri dibanding dokumenter dari band lainnya yang pernah gue liat.
Media_httpdickstarfil_tgdba
Dokumenter ini dibuka dengan cerita masa kecil para personil BLUR. Dari mana asal mereka? Sekolah dimana? Bagaimana kehidupan keluarga? Dilanjut dengan cerita tentang bagaimana BLUR terbentuk. Perjalanan mereka dari satu album ke album berikutnya, dari satu konser ke konser lainnya. Semua diramu seperti biasa. Dimana gak biasanya? Itu semua bisa lo liat pas masuk ke pembahasan kenapa Graham Coxon “keluar” dari BLUR. Ternyata pemahaman gue tentang Coxon “keluar” dari BLUR selama ini salah. Gue gak perlu ceritain details-nya, karena lo musti harus wajib nonton dokumenter yang menurut gue sampai saat ini terbaik dari yang terbaik. Selesai mereka cerita tentang kenapa Coxon hilang di album “Think Thank”, dokumenter ini dilanjut dengan “comeback”-nya Coxon ke BLUR. Mereka buat tour concert di Inggris Raya termasuk kembali ke tempat mereka pertama kali manggung di depan publik. Lalu mereka juga manggung di sekolah terdahulunya. Sampai pada saat yang mengharukan adalah ketika BLUR didaulat untuk menjejakkan kaki di konser termasyhur sejagat raya, Glastonburry! Diceritain di dokumenter ini bahwa waktu itu Damon nyamperin Graham yang notabene udah “ngilang” sejak lama tanpa kabar sama sekali. Pertemuan mereka untuk pertama kalinya lagi setelah “tragedi” di album Think Thank dimulai dengan sangat kaku oleh keduanya. Malah, Coxon bilang pas pertama kali buka pintu, mereka cuma diem-dieman dan ketika mulai ngomong, dua-duanya jadi salah tingkah. Tapi akhirnya keadaan itu cair sendiri karena mereka memang sahabat kental, sahabat sejati tak pernah usang diselimuti debu.
Media_httpdickstarfil_ffuwb
Ada satu adegan yang bikin gue merinding, malah gue kebawa sama aura dokumenter ini yang terlalu kuat “punch line”-nya bagi gue. Film dengan genre sad romantic pun lewat bagi gue, karena dokumenter ini lebih dari apa yang gue kira pada awalnya. Dari setiap film yang gue pelototin, gue selalu ambil pelajaran. Buat gue, pelajaran itu gak hanya di dapat dari bangku sekolah, kuliah ataupun perpustakaan. Gue selalu mengkombinasikan itu semua, karena gue gak mau berhenti untuk belajar. Kalau gue lagi males baca buku, gue isi waktu belajar gue dengan nonton film. Kalau gue lagi males baca buku dan nonton film, gue isi dengan dengerin lagu. Kata siapa dengerin lagu bisa dapet pelajaran berarti? Lo gak bakalan pernah tau kalau lo belum coba sendiri. Buat gue, dokumenter “No Distance Left To Run” ini sangat, sangat, sangat memberikan gue pelajaran selain tentang musik dan hingar bingar dunia di sekelilingnya, yang utama adalah tentang arti persahabatan. Sahabat tak pernah kenal lelah. Sahabat tak pernah kenal kata bekas ataupun mantan. Sahabat tak pernah kenal nominal seribu, sejuta, bahkan setriliun. Tuhan sahabat bagi gue. Orang tua gue, sahabat gue. Keluarga gue, sahabat gue. Dan lo semua yang selalu ada di sekeliling gue, baik di saat tangis menggelegar, dan di kala tawa membahana. Sahabat itu kekal. You’re So Great, Mate! Cheers, Jumat, 12 November 2010 – 1.24AM

Strategi Competitive Advantage “Online Selling”

(studi kasus www.kaskus.uswww.gantibaju.comkutukutubuku.com) Ketika seseorang membangun sebuah perusahaan, sudah dapat dipastikan dia sudah membuat strategi dari awal terbentuk sampai kemudian perusahaan itu berjalan dan seterusnya. Strategi itu bisa berkembang sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan. Biasanya, hal ini dikenal dengan Manajemen Strategi. Dengan adanya Manajemen Strategi, memungkinkan suatu organisasi untuk lebih proaktif ketimbang reaktif dalam membentuk masa depan sendiri. Hal ini memungkinkan suatu organisasi untuk mengawali dan mempengaruhi aktivitas, dan dengan demikian dapat berusaha keras mengendalikan tujuan sendiri, membantu organisasi membuat strategi yang lebih baik dengan menggunakan pendekatan yang lebih sistematis, logis, dan rasional pada pilihan strategi dan membantu perusahaan dalam menghadapi persaingan di lingkungan industri dimana perusahaan berada (Pearce II and Robinson Jr., 2003:6). Dalam menghadapi persaingan, perusahaan diharuskan membuat sebuah terobosan. Buat strategi perusahaan yang “original” yang memungkinkan untuk diterapkan dengan keadaan lapangan. Ketika melakukan kajian terhadap strategi perusahaan, harus dipahami bahwa strategi tersebut berbeda antar – industri, antar – perusahaan, dan antar – situasi.
Michael Porter mengelompokkan strategi ini ke dalam strategi generik, yaitu strategi perusahaan dalam rangka mengungguli pesaing dalam industri sejenis : a. Strategi Diferensiasi (differentiation). Cirinya adalah perusahaan memutuskan untuk membangun persepsi pasar potensial terhadap produk/jasa yang unggul agar tampak berbeda dibandingkan produk pesaing. Pelanggan diharapkan mau membeli dengan harga mahal karena adanya perbedaan itu. b. Strategi Kepemimpinan Biaya Menyeluruh (overall cost leadership). Cirinya adalah perusahaan mengkonsentrasikan perhatian pada harga jual produk yang murah untuk menekan biaya produksi, promosi, maupun riset. Jika perlu, produk yang dihasilkan hanya sekedar meniru produk pesaing. c. Strategi Fokus (focus). Cirinya adalah perusahaan mengkonsentrasikan pada pangsa pasar tertentu untuk menghindar dari pesaing. Dari ketiga strategi diatas, saya coba membahas satu persatu dengan menggunakan contoh kasus dari tiap-tiap strategi. Yang pertama adalah toko baju online gantibaju.com (biasa disingkat Gaban). Toko online ini merupakan “pendobrak” rutinitas belanja di tengah-tengah masyarakat, terutama anak muda. Baju yang dipajang di etalase virtual mereka dengan menggunakan portal website, memungkinkan orang untuk berbelanja dari mana saja. Entah sedang dikamar tidur, maupun ketika sedang berada di balik meja kantor, yang penting ada koneksi internet, langsung bisa belanja.
Dimana letak diferensiasinya? Toko online Gaban ini menjual produk-produk t-shirt dengan warna dan design sablon yang berkualitas tinggi. Dengan harga mulai dari Rp. 120.000 untuk sebuah t-shirt ini tergolong mahal, tapi tidak bagi mereka yang menginginkan sesuatu yang “beda”. Dan bagi mereka yang sibuk dan malas untuk menyambangi toko baju di Mall karena satu dan lain hal, inilah terobosan belanja saat ini. Pilih jenis dan ukuran yang anda mau, kirim biodata diri serta alamat tujuan, transfer uangnya (via mobile banking or internet banking), pakai bajunya. Praktis!
Media_httpdickstarfil_icbhc
Lalu ada strategi Overall Cost Leadership. Untuk contoh kasus pada strategi ini, saya mengangkat kaskus.us sebagai situs komunitas terbesar di Indonesia. Di dalamnya, kaskus memuat berbagai macam “kebutuhan”, dari mulai kebutuhan informasi, diskusi hingga jual beli. Banyak “perusahaan” dan freelancer yang menggunakan kaskus sebagai etalase jualan mereka. Dengan hanya mengisi informasi diri (bisa anonim/tidak sesuai aslinya) lalu anda akan mendapatkan akun dengan fasilitas interaktif dengan sesama pemilik akun di kaskus. Dengan membuka “lahan” sebesar-besarnya bagi para pemilik akun untuk berkreasi sesuka mereka, kaskus telah mendapatkan keuntungan besar dengan banjirnya iklan dari pihak perusahaan yang melihat laman kaskus sebagai sasaran potensial untuk digunakan sebagai layar iklan produk mereka.
Media_httpxayimgcomkq_dxeaz
Kemudian ada strategi fokus. Untuk strategi ini, saya mencoba mengangkat kutukutubuku.com. Kenapa? Karena situs jual online yang satu ini hanya fokus dalam penjualan buku saja. Tidak yang lain. Dengan fasilitas Cash on Delivery dan Free ongkos kirim untuk pembeli yang berdomisili di Jakarta, maka kutukutubuku.com menjadi panutan utama para penggila buku yang “sedang malas” ke toko buku. Tinggal klik, maka buku yang anda inginkan langsung bisa diantar ke tempat anda. Di kutukutubuku.com ini juga anda dapat memesan buku yang jarang ada di pasaran. Anda hanya tinggal memberikan judul buku yang anda cari dan siapa penulisnya, maka tim mereka akan dengan segera mencarikannya untuk anda. Tentunya dengan harga yang pantas. Saat ini dunia virtual sudah menjadi satu keharusan baik bagi perorangan maupun perusahaan untuk dapat menghemat waktu dan lebih banyak variasi produk untuk dipilih. Indonesia sedang menuju ke era e-commerce! Indonesia maju dalam teknologi informasi itu suatu keharusan!

apple to APPLE

Dunia teknologi di akhir 70an mengalami perkembangan yang pesat. Salah satu perusahaan yang masih “kokoh” berdiri hingga saat ini adalah Apple dengan berbagai macam produk mutakhir yang mereka hasilkan termasuk operating system. Apple sangat tangguh dalam menghadapi segala macam tantangan, termasuk dari “musuh bebuyutan” nya yakni, Microsoft.
Apple lahir ke dunia pada April 1976 ketika Steve Wozniak mengenalkan komputer dengan label Apple 1 di ajang Homebrew Computer Club, Palo Alto, Amerika Serikat. Pada mulanya, Apple memasarkan perangkat CPU-nya saja tanpa alat tambahan lainnya seperti power supply, monitor dan keyboard untuk mengoperasikannya. Perubahan radikal dilakukan oleh Steve Wozniak dan Steve Jobs ketika mereka memperkenalkan Apple 1 with secondary storage terbarunya pada Agustus 1976 dalam ajang konferensi microcomputer PC’76. Ketika itu, Apple 1 merupakan satu-satunya komputer yang berbasis microprocessor dan mendukung penuh penggunaan bahasa BASIC. Perubahan ini berhasil membuat banyak kalangan tertarik dan berdecak kagum. Tak berhenti disitu, Steve Wozniak ternyata sudah siap dengan prototype untuk Apple II dengan serentetan perubahan yang tergolong mencengangkan pada masanya. Kenapa? Pada Apple II, Wozniak mulai mengembangkan aplikasi dan permainan yang diterapkan oleh Chris Espinosa. Ketika Apple II diperkenalkan di West Coast Computer Fair yang pertama, semua mata tertuju pada produk mutakhir tersebut. Produk ini sudah dilengkapi dengan keyboard, interface grafis berwarna dan teknologi lainnya.
Seiring dengan perkembangan  teknologi dari waktu ke waktu, pada 1983 Apple meluncurkan Apple Lisa sebagai komputer yang pertama kalinya menggunakan GUI (Graphical User Interface). Tampilan GUI ini mencakup tampilan jendela, folder, menu pulldown, tombol klik, scroll bar, icon dan pointer mouse. Hal ini menambah kekaguman banyak orang terhadap proudk ciptaan Apple. Perubahan radikal yang diakui banyak pihak adalah ketika Apple memutuskan untuk mengganti penggunaan processor PowerPC dengan Intel Processor. Untuk diketahui, PowerPC ini merupakan teknologi yang dibangun bersama antara Apple Computer dengan pihak IBM dan Motorola. Intermediating Changes Dengan Steve Jobs sebagai “dewa”nya, Apple sudah mampu mempengaruhi dunia dengan segala teknologi yang diciptakan. Apple menggunakan sistem “community basis” yang ketika itu jarang sekali digunakan. Sistem seperti ini sangat efektif untuk menggaet para loyalis terhadap produk yang diciptakan. Contohnya, Apple sudah bukan rahasia lagi banyak sekali paguyuban ataupun sejenisnya yang sangat “mendewakan” produk yang dirilis oleh Apple. Seiring berkembangnya dunia teknologi dan bisnis, Apple menggunakan situs mereka sebagai etalase pamer untuk menjual semua produk yang telah dihasilkan. Mereka menggunakan terobosan online marketing untuk memasarkan produknya. Setiap orang yang berkeinginan membeli produk Apple, dapat mengakses situs mereka di www.apple.com dan membelinya dengan cara transfer dan kemudian barang akan dikirim. Bahkan untuk sekarang, berlaku untuk semua region (Asia, Amerika etc). Creative Changes Ketika banyak perusahaan bidang teknologi memproduksi barang dengan desain yang rumit (aerodinamis dll), maka Apple punya alasan tersendiri ketika mereka mengeluarkan produk MacBookWhite ke pasaran. Dengan standar desain minimalis dan sangat sederhana, Apple dapat “merengkuh” pangsa pasar yang notabene sebelumnya telah dikuasai oleh mereka yang selalu “menjejali” konsumen tanpa mencari tahu “keinginan” konsumen. Perubahan kreatif yang dilakukan oleh Apple dalam segi desain pun terus berkembang dengan terus bermunculannya produk terbaru yang mereka hasilkan. Setelah sukses dengan produk pc/laptop, Apple mulai merambah ke dunia mobile phone and gadget. Di kelas ini, mereka mulai dengan mengenalkan iPhone dan iPod. Ketika semua orang sedang terperangah dengan kecanggihan teknologi blackberry, maka tak butuh waktu lama, Apple berhasil “menghajar” pangsa pasar blackberry tersebut ke tingkat yang mencengangkan.
Media_httpdickstarfil_btljq
Penggunaan teknologi “touch screen” sebagai daya tarik utama Apple ini merupakan terobosan kreatif di tengah-tengah kejenuhan banyak pihak terhadap teknologi yang telah tersedia dan begitu-begitu saja. Belum selesai semua orang terperangah dengan kecanggihan teknologi iPhone dan iPod, Apple kembali meluncurkan sebuah tablet pc dengan label iPad. Teknologi melakukan terobosan tiada henti oleh Apple. Dalam penggunaan iPhone, iPod dan iPad, setiap pengguna diwajibkan menggunakan aplikasi iTunes sebagai wadah sinkronisasi data-datanya. Selain iTunes, maka jangan harap anda akan bisa menggunakan iPod anda sebagai media storage yang berguna. Ini merupakan langkah kreatif berikutnya yang dilakukan Apple dalam bidang penjualan. Progressive Change Banyak orang bertanya-tanya, kenapa Apple bisa begitu meledak? Cukup sederhana jawabannya. Apple tahu apa yang orang mau. Dengan melakukan komunikasi dua arah antara Apple dengan para pengguna di luar, maka Apple pun dapat mengetahui apa yang diinginkan “sebenarnya”. Ketika semua orang banyak menggunakan media iklan televisi, radio, maka beda hal dengan Apple. Mereka banyak mengalokasikan dana mereka untuk menyebarkan informasi produk mereka melalui “BIG EVENTS” salah satunya perhelatan acara penghargaan untuk sineas terbaik dunia. Mereka berhasil menggunakan perhelatan acara tersebut sebagai “panggung jualan” mereka ke khalayak. Dan tak usah ditanya lagi tentang bagaimana angka penjualan setelahnya? Laku bak kacang goreng. Sampai-sampai, banyak orang rela antri demi mendapatkan iPad untuk pertama kali ketika diluncurkan.

Jepret Minim Cahaya?

Akhir pekan sebelum ke Pantai, gue kumpul di Bintaro sama temen-temen kantor gue yang dulu. Kebetulan, gue sama Sita itu ulang tahun pas September kemarin. Sita ngajak kita makan-makan di rumahnya. Emang cewenya Dika ini udah paling rajin kalau masalah masak-memasak mah, ibu-ibu bangetlah pokoknya. hehehe [caption id="attachment_151" align="aligncenter" width="294" caption="Brader Dika"]
Media_httpdickstarfil_gmqep
[/caption] Tapi sayang, pas kita kumpul kurang Joneer. Pacarnya Vindy ini lagi gali sumur minyak di Australia, nyari duit buat modal beli Jet Pribadi. ha ha ha Beres makan, kue ulang tahun dikeluarin lengkap dengan lilinya. Gue sama Sita langsung pasang kuda-kuda buat niup lilin. Hehehe [caption id="attachment_146" align="aligncenter" width="490" caption="Make A Wish...Birthday Cake!"]
Media_httpdickstarfil_zldht
[/caption] Tadinya kita mau keluar buat foto-foto, cuma kesorean, jadi nanggung banget kalo keluar, mending sekalian malem. Akhirnya malem kita berangkat ke Bintaro dan nemplok di Olala Cafe. Disitulah "perjuangan" gue motret dalam keadaan low light yang amat sangat. Tanpa flash yang mumpuni dan tanpa tripod. [caption id="attachment_147" align="alignleft" width="294" caption="Mba Sita"]
Media_httpdickstarfil_vgqfa
[/caption] Akhirnya ada gelas yang diisi lilin, itulah sumber cahaya yang gue jadiin andalan. Walaupun tetep ada noise di hasil jepretannya, gue tetep terus jepret. Berenti jepret cuma karena cahaya minim dan gak punya flash? Hmm..Berenti napas kalau udah gak ada oksigen itu baru tepat. hehehe Gak semua keterbatasan itu harus dijadikan alasan untuk kita berhenti berkarya. Justru, keterbatasan itulah yang akan memacu kreativitas kita dan memutar otak kita untuk melakukan sebuah inovasi demi menghasilkan karya. Contohnya dalam hal jeprat-jepret. Kalau lo lagi dalam situasi yang minim cahaya dan tanpa flash serta gak ada tripod, coba gunakan cahaya lilin (biasanya di resto-resto gitu ada kok lilin) :D  Dengan cahaya seadanya, biasanya yang diharuskan itu pengaturan segi angle jepret lo. Coba lo sesuaikan jatuh bayangan dari cahaya lilin tersebut sama yang terlihat di ruang tembak lo. Kadang suka ada yang jatuh bayangan dari cahaya itu yang malah ngerusak objek kita. Noise yang kita dapet di hasil foto kita dengan kondisi minim cahaya kaya gitu, ya bisa diwajarin kok. Mungkin nanti bisa lo olah pake tools. [caption id="attachment_155" align="aligncenter" width="294" caption="Vindy"]
Media_httpdickstarfil_hffwi
[/caption] Yang penting, jangan mentok sama keterbatasan, tetep semangat, tetep jepret! Enjoy! ;)

Oleh-Oleh Jepret dari Anyer & Carita

Wiken lalu, gue "diculik" sama kakak gue yang mau jalan ke pantai sama suami & anaknya. Kakak gue sama suaminya ini emang paling pol dah kalau masalah jalan-jalan mah. Anaknya aja, Abi, bisa dibilang "gede di atas mobil" :D [caption id="attachment_134" align="alignleft" width="226" caption="Gue sama Ponakan Gue, Abi Namanya."]
Media_httpdickstarfil_igaff
[/caption] Gue dijemput di rumah temen gue di Bintaro, karena semalemnya gue keabisan bus untuk pulang ke Bogor. Baju sama celana buat renang aja gue pinjem, saking gak direncanainnya ke pantai. But, thats me, thats flexibility. ha ha ha Di tengah jalan kita berenti buat shalat dzuhur di Masjid daerah Pandeglang. Arsitekturnya bagus. Kita sempet jeprat-jepret juga disitu. Terus, kita lanjut perjalanan ke pantai, sampe sana panasnya gila-gilaan (yaiyalah pantai!). Gue paling males berenang di pantai tengah hari bolong. So, kakak gue ngajak survey hotel dulu buat bulan depan keluarga kita mau jalan liburan ke Anyer. Sambil kakak gue sama suaminya sibuk ngobrol sama petugas hotelnya, gue sibuk jeprat-jepret sana sini. Sampe batu gue jepret. Lalet gue jepret. Tiang bendera gue jepret. Apa aja gue jepret. (Maklum, baru pegang 50D, gress!) :D Ganti lensa 70-300 pinjeman dari kakak gue yang kedua, Echa. Gue makin kalap jepret sana-sini. [caption id="attachment_137" align="alignleft" width="300" caption="Karang Bolong, Pantai Carita (Mirip di Bali ni katanya! :D)"]
Media_httpdickstarfil_sdcol
[/caption] Pas di Karang Bolong, Pantai Carita, gue dapet banyak objek layak jepret. Malah ada yang bilang, "Lo kapan ke Bali dick?" . :D Terus dari Karang Bolong, gue balik ke Pantai di sekitar Anyer yang aman buat berenang, gak ada karangnya. Disitu gue dapet sunset, tapi gak sempurna. Kayaknya lagi mendung dan banyak angin, jadinya sunsetnya gak bentuk "telor ceplok", ketutup awan. [caption id="attachment_139" align="aligncenter" width="490" caption="Sunset, Anyer"]
Media_httpdickstarfil_pevfa
[/caption] Tapi ya gue gak mau nyerah sampai disitu, gue tetep semangat jepret, gue tetep semangat buat dapetin moment apapun itu yang gue jepret pake Canon 50D gue tercinta ini. Seperti yang lo liat disini, Enjoy! ;)

Jepretan Canon Eos 50D

Akhir pekan kemarin, keluarga besar dari pihak ibu gue melakukan kegiatan rutin tiap tahunnya, yaitu nginep selama 3 hari 2 malam di Puncak, Bogor. Pas acara taun ini, pas banget gue baru pegang Canon EOS 50D. Asyik juga pegangannya, kokoh. Jeprat sana, jepret sini. Gue puas dengan hasilnya. Nah pas lagi jepret para orang tua yang lagi asik karaokean, gak sengaja gue nengok ke halaman sebelah Villa, gue liat ada beberapa bunga kuning yang "lumayan" terawat. Nah, iseng-iseng deh gue jepret tuh. Pas lagi jepret lagi, eh ada binatang kecil nemplok di bunganya, jadi nambah lucu hasil jepretan gue. :D Enjoy! Cheers :) [caption id="attachment_121" align="aligncenter" width="490" caption="Sehidup Semati"]
Media_httpdickstarfil_cwacz
[/caption]
Media_httpdickstarfil_ejpel

Tugas Kita Hanya Berbagi

“Happiness only real when shared”
Kutipan di atas baru aja gue dapet sore tadi dari film besutan Sean Penn, “Into The Wild”. Sontak gue langsung teringat dengan acara buka bersama alumni SMA gue di Panti Sosial Cibalagung, Sabtu 28 Agustus 2010. Di sana, selain memberikan santunan, kita berbagi pengalaman dan memotivasi adik-adik yang ada di panti asuhan tersebut supaya mereka memiliki semangat untuk terus maju. [caption id="attachment_107" align="alignleft" width="300" caption="Into The Wild (UK Movie Poster)"]
Media_httpdickstarfil_ijbdu
[/caption] Perwakilan pertama dari kami untuk berbagi pengalamanya yakni Elang Gumilang. Seorang pemuda dengan jejeran penghargaan bergengsi dan perusahaannya di bidang property yang sudah mendirikan 8 perumahan di 8 lokasi berbeda. Elang menuturkan pengalamannya langkah demi langkah bagaimana ia bisa mencapai ke tingkat yang sekarang ini. Dimulai dari jualan donat dengan Rustiyono yang juga teman kami (tidak bisa hadir), hingga mendapatkan proyek pertamanya di bidang property senilai 1,6M. Sekarang Elang sudah berkeluarga. [caption id="" align="alignleft" width="300" caption="Irhan Andifa"]
Media_httpa0twimgcomp_rzjbs
[/caption] Selanjutnya SMUNSA 2003 itu punya salah satu “calon musisi” yang hingga saat ini belum mendapatkan “panggung” nya sendiri, Irhan Andifa namanya. Tapi jangan salah, Ayah satu anak ini semangatnya tak pernah pudar untuk dapat mencapai impiannya, menjadi seorang musisi pop. Sedari masih bercelana biru (SMP) Irhan sudah sering [caption id="attachment_180" align="alignleft" width="193" caption="Elang Gumilang"]
Media_httpdickstarfil_fgzif
[/caption] “ngeband” dengan teman-teman. Nama band nya sering gonta-ganti, begitu juga dengan personilnya. Setiap Irhan mau naik pentas, dia selalu mengirimkan sms ke gue. Sampai suatu saat gue pun datang ke acara dimana band Irhan tersebut manggung. Alangkah kagetnya gue, ternyata itu bukan panggung, tapi sebuah warung kecil di pinggir jalan yang disulap oleh Irhan dan teman-temannya menjadi sebuah panggung pertunjukkan. Gila, gue gak nyangka semangat Irhan dan teman-temannya sampai sebegitu besar. [caption id="attachment_109" align="alignleft" width="300" caption="Kegiatan di Rumah Sosial Cibalagung Bogor"]
Media_httpdickstarfil_ihbtz
[/caption] Baru-baru ini, Irhan dan “Everyday People” nya berhasil masuk ke 15 besar LA Light Indiefest. Hadir sebagai Juri, yakni Tora Sudiro yang menyebut suara Irhan sama Fals-nya (sumbang) dengan suara Tora. Tapi Irhan menceritakan itu dengan warna muka yang jauh dari wajah penuh amarah. Disitu gue liat bagaimana keikhlasan seorang Irhan dalam mengejar impian dan cita-citanya. Dan gue selalu bilang sama Irhan gak bosen-bosen, “Someday Han, Someday...” [caption id="attachment_182" align="alignleft" width="259" caption="Abbi Angkasa Perdana"]
Media_httpdickstarfil_chaib
[/caption] Lalu ada Abbi Angkasa Perdana. Suami dari Rena Sarah, ayah dari Ashraff ini merupakan seorang Dokter yang juga berprofesi sebagai Pengusaha di bidang IT. Abbi bercerita, lulus SMA orang tuanya melepas Abbi untuk hidup mandiri. Di situ Abbi mulai meraba-raba dunia wirausaha. Pada awalnya dia hanya bermodalkan kartu nama dengan logo yang sama dengan sebuah toko di salah satu pusat perbelanjaan elektronik terbesar di Jakarta. Langkah demi langkah dijalaninya dengan sabar dan penuh perhitungan. Hingga saat ini Abbi dan Rena sudah mampu menghidupi kurang lebih 50 karyawan. Selain wirausaha dan anak band, kemarin ada Maesfri yang juga berbagi mengenai seluk beluk pekerjaannya di bidang hitung menghitung. Maes yang berprofesi sebagai Auditor di salah satu kantor akuntan publik, menceritakan pengalamannya sebagai auditor yang menghitung neraca keuangan suatu perusahaan. Kebetulan, salah satu anak panti disitu sangat tertarik, Habibah namanya, dia sedang menempuh pendidikan di sekolah kejuruan Akuntansi. [caption id="attachment_185" align="alignleft" width="206" caption="dr. Radityo Anugrah"]
Media_httpdickstarfil_dihir
[/caption] Kemudian ada Radityo Anugrah, teman kita yang berprofesi sebagai Dokter dan mendapat beasiswa S2 dari Gubernur Jawa Barat. Didit, sapaan akrabnya, berbagi cerita bagaimana langkah-langkah untuk menjadi seorang dokter dan bagaimana cara memperoleh beasiswa. Didit juga menceritakan kebiasaanya yang ia sering lakukan untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya, yakni berbicara dengan dirinya sendiri di hadapan cermin. [caption id="" align="alignleft" width="300" caption="Harun Ar Rasyid"]
Media_httpa2twimgcomp_chphx
[/caption] Terakhir, ada Harun Al Rasyid. Temen kita yang menjadi pengusaha di bidang impor daging sapi dan peternakan domba yang menceritakan pengalamannya sambil diselingi humor-humor segar. Harun mencoba menceritakan bagaimana ia harus berjuang mendapatkan beasiswa untuk kuliah karena keadaan ekonomi keluarganya yang mendesak Harun supaya mandiri. Justru dengan pengalaman itulah, Harun termotivasi dan tak pernah putus asa untuk terus mencoba meraih cita-citanya. Saat ini Harun sudah menikah dan dikaruniai 1 puteri. [caption id="attachment_110" align="alignleft" width="300" caption="Donasi dari Imajinasi Foundation"]
Media_httpdickstarfil_qwbnn
[/caption] Tidak ada yang percuma ketika kita memiliki niat tulus untuk berbagi. Walaupun mereka anak yatim-piatu, tapi gue yakin mereka masih punya semangat untuk maju dan mereka sangat berhak untuk memiliki impian dan cita-citanya sendiri. [caption id="" align="alignleft" width="225" caption="Maesfri Deri"]
Media_httpa3twimgcomp_tnsrs
[/caption] Tugas kita hanya berbagi pengalaman, supaya mereka nantinya memiliki bekal wawasan pengetahuan ke depan. Tugas kita hanya berbagi cerita, supaya mereka memiliki motivasi yang mampu membakar semangat dan menumbuhkan tingkat percaya diri mereka untuk selalu maju dan lebih maju lagi. Tugas kita hanya berbagi “peta” kehidupan yang sudah lebih dulu kita rasakan, supaya mereka tidak tersesat ketika melangkah mengejar mimpinya. Tugas kita hanya berbagi. Tugas kita mudah bukan? Selanjutnya, tugas mereka lah untuk menentukan dirinya untuk terus maju atau berdiam diri menerima keadaan. Itu kembali kepada niat serta usaha mereka masing-masing. Yang terpenting, mereka punya “bekal” wawasan pengetahuan dan semangat untuk mengarungi samudera kehidupan.
"….Nothing to help you but your hands and your own head.." Primo Levi -Bear Meat- (quoted from “Into The Wild” movie)
Walaupun tidak semua dari kami bisa berbagi cerita atau pengalamannya dikarenakan waktu yang sangat sedikit. Namun insyaallah kebaikan teman-teman semua mendapat ganjaran setimpal dari Allah SWT. You guys rock! TUGAS KITA BELUM SELESAI SAMPAI DISINI! God Bless You All! Cheers, Dicky Septriadi 29 Agustus 2010