Saya, Dika, Tari, Mada dan Ardi menghabiskan malam di Bandung. Dengan menggunakan mobil Tari, kami menyusuri jalanan di Bandung demi mencari buah durian. Sosok buah bak bidadari dari surga yang belum ada tandingannya di dunia, entah di luar angkasa.
Akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Satu persatu tukang durian kami hampiri, lalu pilihan jatuh ke sebuah tenda sederhana yang dijaga oleh sepasang suami istri, yakni si bapak dan si ibu. (Saya gak nanya namanya, da ini mah bukan wawancara, saya kesitu mau makan duren, yey)
Lalu muncullah Dika dari balik tumpukan durian yang sebenarnya ada di sebuah truk di seberang jalan sana. Oh salah ketang, itu tukang parkir, ternyata Dika ada di sebelah saya daritadi.
Dengan penampilan meyakinkan sebagai ahlinya durian, dengan pesan utama yang selalu diulangnya, "Jangan pernah lo makan duren dari ujung piso si penjual!", Dika mencoba meyakinkan kami supaya dia saja yang memilih dan bertransaksi dengan penjual durian tersebut. Kami menyaksikan sepak terjang Dika dari kejauhan.
"Ayo dek, durennya. Manis ini mah, ibu gak bohong," ujar si ibu penjual durian.
Tanpa banyak kata-kata dan berlagak ala durian expert lulusan Oxpord, Dika mengambil buah durian dari tumpukan, lalu menciuminya dan menaruhnya kembali ke tempat semula. Begitu seterusnya. Sampai kemudian, datanglah si bapak penjual durian.
"Mau yang mana dek?" tanya si bapak penjual durian.
"Coba yang ini Pak" jawab Dika dengan mantap. Kemudian si bapak penjual durian pun membuka ujung kulit durian dengan sebilah pisau tajam, dan memberikan ujung pisaunya kepada Dika.
Karena pakem yang selalu diteriakkan, Dika lalu menolak untuk mencoba durian dari ujung pisau si penjual dengan berkata, "Pak, saya coba colek dari duriannya aja"
Dengan slogan umum 'Pembeli adalah Raja', maka si bapak penjual durian pun melemparkan senyum dan berujar layaknya tukang dagang obat terlarang, "Oh mangga sok silahkan. Ini dijamin barangnya bagus!".
"Ah, gak enak nih Pak. Dingin! Coba yang ini", ujar Dika sambil menyodorkan durian yang diambilnya dari tumpukan.
Masih dengan pakem yang sama, ketika si bapak penjual durian menawarkan duriannya melalui ujung pisau, Dika menolak dan langsung mencelupkan jarinya ke buah durian yang hanya dibuka ujungnya saja oleh si bapak penjual durian.
"Gimana dek, yang ini enak kan? Barangnya bagus kok", lagi si bapak penjual durian mencoba meyakinkan.
"Ah gak kepake Pak. Coba yang ini!", jawab Dika sambil menyodorkan durian lainnya. Dan perbincangan ini terjadi sampai buah durian yang selanjutnya dan selanjutnya. (jumlah durian yang dicoba dan dibilang gak kepake itu kemungkinan mencapai 20 buah menurut Armada dalam komentar foto di Facebook)
Mungkin kekesalan si bapak penjual durian sudah sampai puncaknya, terjadilah perbincangan sebagai berikut.
"Sok yang ini mah gak bakalan gagal dek, barang bagus ini!" ujar si bapak penjual durian.
Dengan sangat mantap, Dika pun menjawab, "Ah, dingin gini, gak kepake Pak!"
Lalu sambil menggenggam sebilah pisau di tangan kanan dan sebuah durian di tangan kiri, si bapak pun berujar dengan nada emosi, "Kalau gini caranya mah saya rugi atuh! Udah berapa biji duren dibuka, kamu bilang gak kepake. Gak bener ini kalau gini caranya!"
Karena merasa terdesak dan terindimidasi oleh sebilah pisau di tangan kanan dan sebuah durian di tangan kiri, Dika pun melalalikan tugasnya sebagai durian expert dan memanggil bala bantuan.
"Boi, sini deh, lo cobain gimana rasanya ni duren", teriak Dika memanggil saya. "Bentar ya Pak, bentar. Lidah orang kan beda-beda, barangkali menurut temen saya ini emang barang bagus", ujar Dika seraya mencoba menenangkan si bapak penjual durian yang sudah emosi bukan kepalang.
Dengan langkah tegap maju jalan, saya menghampiri dan mencoba durian tersebut dari ujung pisau si bapak penjual durian. (Ini keadaan udah genting, kalau masih minta nyolek duriannya langsung, yang ada bukan duren yang dibelah)
"Hmm..enak kok, manis!", ujar saya sembari tersenyum ketakutan.
"Tuh, kata saya juga apa kan Pak. Lidah orang mah beda-beda. Sok ini berapaan harganya?", sambung Dika berupaya menghindari konflik berkepanjangan.
"35 ribuan aja dek", jawab si bapak.
"Kurangin atuh Pak?", saya mencoba menawar.
"Emang mau ambil berapa?", tanya si bapak.
"2 biji aja, yah kurangin ya Pak? Kalau gak saya ambil 3 deh!", saya mengajukan tawaran.
Belum dijawab pertanyaan saya oleh si bapak penjual durian, Dika pun ikut berujar, "Iya pak, masa sesama warga sini gak kasih murah"
Dengan aura persahabatan yang kental, si bapak pun balik bertanya ke Dika, "Emang kamu tinggal dimana dek?"
"Itu di depan", Dika asal menunjuk ke sebuah jalan di seberang tenda tempat di mana kami sedang melakukan negosiasi perdamaian ala PBB.
Tanpa diduga, si bapak penjual durian pun menjawab, "Rumah saya di situ. Kamu tinggal dimananya?"
Sadar akan blunder yang dilakukannya. Dika langsung berkata, "Yaudah Pak. Sok buka aja durennya. Sok berapa aja harganyalah dibayar"
Dan akhirnya perdamaian pun terjadi. Dika dan saya memanggil Tari, Mada dan Ardi untuk segera bergabung melahap durian hasil perdamaian dengan si bapak penjual durian. Perdamaian ini semakin lengkap karena untuk pertama kali dalam hidupnya, Ardi makan buah durian.